• Menjadi Manusia Belajar dari Aristoteles

    Sesuai judul bukunya, buku karya Frans Magnis dan Suseno ini mengajarkan manusia untuk hidup berdasarkan kehidupan Aristoteles. Dalam buku ini banyak kutipan yang berasal dari pemikiran Aristoteles dan banyak juga dikutip dari buku-buku hasil karya Aristoteles.
    Di awal buku ini, pembaca dihadapkan dengan pertanyaan sulit dari sang penulis. Pertanyaan ini penuh dengan makna dan tidak hanya memerlukan nalar yang baik untuk menjawabnya tetapi dibutuhkan juga emosi di dalamnya. Pertanyaan terebut ialah “Apakah Tujuan Manusia ?”
    Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sejak dulu mengganggu pikiran saya. Pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang di benak saya. Saya benar-benar tidak mengerti apa tujuan manusia dalam kehidupannya, saya tidak mengerti akan pikiran Tuhan yang menciptakan manusia kemudian ditempatkan di muka bumi ini. Saya pernah berpikir untuk menganalogikan penciptaan manusia sama halnya dengan penciptaan robot. Saat robot diciptakan, si robot tentu tidak mengetahui untuk apa ia diciptakan, yang tahu tujuan robot diciptakan hanyalah sang penciptanya yakni manusia. Sama halnya dengan manusia, saat manusia diciptakan tentu yang mengetahui  tujuan dari kehadiran manusia hanyalah Tuhan.
    Jika saya implementasikan pada pelajaran Pendidikan Agama oleh Pak Satya, tentu ini adalah pertanyaan mudah bagi saya karena Pak Satya telah berulang kali menjelaskan bahwa tujuan utama manusia diciptakan adalah hanya untuk memuliakan Allah. Namun kembali pada konteks yang berada dalam buku ini, buku ini secara terpisah menjelaskan bahwa tujuan utama manusia ialah untuk mencari kebahagiaan. Dijabarkan bahwa tujuan ini bila telah terpenuhi, harusnya tidak ada lagi yang akan diminati, tetepi selama belum tercapai, manusia belum akan puas dan akan tetap selalu mencari kebahagiaan itu. Penulis menuliskan hal demikian berdasarkan cetusan dari pikiran Aristoteles akan tujuan utama manusia. Jika dilihat dari latar belakang kehidupan di dunia ini, hal yang dikemukakan Aristoteles ini sangat masuk akal. Di sisi lain banyak pula pandangan mengatakan bahwa uang adalah tujuan utama manusia, namun sebenarnya uang hanyalah sebagai sarana untuk mewujudkan kebahagiaan manusia yang sulit terpuaskan.
    Ada pandangan yang mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dicari dengan mengejar rasa nikmat dan menghindari rasa sakit. Pandangan ini berakar dari pengajaran paham hedonisme. Pengajaran paham Hedonisme yang mengatakan “kejarlah selalu apa yang menghasilkan paling banyak nikmat dan hindarilah apa yang menyakiti!” sebenarnya tidak berpengaruh dalam kehidupan yang sebenarnya. Kita jangan melihat pada nikmat dan rasa sakit itu sendiri, melainkan lihatlah pada tindakan yang menghasilkannya. Sebagai contoh, kita makan agar kebutuhan tubuh terpenuhi, bukan semata-mata hanya untuk demi nikmatnya makan. Aristoteles berpendapat bahwa menumpuk perasaan nikmat tidak dapat membuat orang menjadi bahagia, karena ketika nikmat telah habis, masalah akan tetap ada. Oleh karena itu jangan berfokus pada nikmat semata melainkan pada perbuatan yang bermakna. Selain pandangan yang menyatakan bahwa  kebahagiaan dapat dicari dengan mengejar rasa nikmat, adapula pandangan yang mengatakan bahwa kebahagian juga dapat dikejar  melalui filsafat dan politik. Orang yang berfilsafat akan merasakan kebahagiaan karena mereka membuat nyata unsur ilahi yang ada di dalamnya dan orang yang berpolitik akan merasakan kebahagiaan karena berpolitik adalah puncak kesosialan manusia karena kesosialan merupakan ciri yang khas bagi manusia.
    Perlu diketahui bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan, kita harus membangun kekuatan intelektual dan etis yang membuat kita mampu untuk memberi arah yang semestinya pada hidup kita. Kita juga dituntut harus membangun keutamaan yang sesuai. Dari keutamaan yang dimiliki itu, maka kualitas seseorang dapat dinilai. Keutamaan tersebut merupakan kemantapan dalam sikap kita menjadi manusia utama. Yang perlu diperhatikan adala kunci dari keutamaan itu, dan kunci tersebut adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan merupakan semacam wawasan intelektual, untuk membuat wawasan intelektual ini menjadi efektif maka harus ditunjang oleh keutamaan etis. Orang yang memiliki keutamaan ini adalah orang yang semakin kuat, mantap dan bahagia. Jika dipikir secara logika, pasti tidak ada kebahagiaan yang bernilai seratus persen dan orang juga pasti tidak akan bahagia jika ia melarat, sekarat, sakit atau terkena bencana lainnya. Tetapi hal yang paling utama dalam konteks ini adalah hanya orang yang berkeutamaan saja yang akan menentukan kebahagiaan seseorang.
    Kebahagiaan adalah sesuatu yang dialektis. Apabila langsuung diusahakan maka kebahagiaan akan mengelak. Tetapi orang yang tanpa pamrih melibatkan diri dalam memajukan atau menyelamatkan sesama, dialah yang akan bahagia. Manusia akan mencapai puncak keutamaan dalam persahabatan yang sejati karena dalam persahabatan sejati bukan hanya kebahagiaan diri kita sendiri yang dituntut, melainkan kebahagiaan sahabatlah yang membuat kita bahagia karena menurut Aristoteles, manusia tidak mungkin bahagia sendirian.
    Selain kebijaksanaan dan persahabatan, kunci terakhir untuk menyempurnakan kebahagiaan adalah moralitas. Jika mau berbahagia, maka kita harus hidup secara bermoral. Jadi, kewajiban moral bukan sekedar sesuatu yang menekan, melainkan yang membawa ganjarannya sendiri yakni rasa bahagia yang semakin mendalam. Manusia adalah makhluk yang harus mewujud-nyatakan potensinya kalau ia mau menjadi nyata. Karena kebahagiaan diperoleh dalam usaha aktif untuk mencapai tujuan luhur bukan pasivitas. Kebahagiaan hanya dapat kita cicipi apabila kita aktif berusaha, tidak mengalah terhadap segala macam godaan yang akhirnya hanya memperlemah kita. Manusia tidak berkembang dengan memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri melainkan dengan membuka diri terhadap orang lain. Sekali lagi, manusia tidak mencapai kebahagiaan dan keluhurannya dengan mau memiliki sesuatu melainkan dengan mengarahkan diri pada usaha bersama
    Buku ini menyadarkan saya bahwa kebanyakan hidup yang kita aplikasikan dalam keseharian memang cenderung mencari kebahagiaan yang duniawi, padahal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Pak Satya yang mengajarkan bahwa tujuan utama hidup ialah untuk memuliakan Allah. Namun saya lebih berpihak pada tujuan utama hidup manusia ialah memuliakan Allah, walaupun tidak bisa disangkal bahwa hidup kita memang sering mencari kebahagiaan. Namun bagi saya, kebahagiaan yang sejati ialah berada di surga bersama Bapa yang telah berkorban demi saya, yang telah disalibkan di kayu salib. Memuliakan nama Allah adalah ucapan terima kasih saya, karena hanya itu yang dapat saya perbuat, saya tidak mempunyai persembahan yang berharga untuk-Nya karena saya penuh dengan dosa.
  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Powered by Blogger.
    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13